-
Kamis, 05 Juni 2014, 13:48 WIB
Mungil Culture menggunakan media
agar-agar sebagai pengganti tanah
Bisnis.com, JAKARTA - Bisnis di bidang
pertanian tergolong dinamis. Asal kreatif dan mau bereskperimen, pelaku usaha
bisa menghasilkan produk inovatif yang bisa menarik perhatian konsumen. Salah
satunya adalah suvenir tanaman berbasis kultur jaringan.Hal inilah yang
dilakukan oleh Mungil Culture. Komunitas laboratorium budidaya jaringan Gajah
Mada yang telah berdiri sejak 2009 ini merintis mengembangkan produk suvenir
tanaman yang berbeda, dengan lainnya.
Menurut CEO Mungil Culture Fathtien
Nabihaty, “Kami, menggunakan teknik kultur jaringan untuk mengembangkan tanaman
tersebut. Karena tampilannya unik, tanaman ini bisa dimanfaatkan juga sebagai pajangan
atau buah tangan”.
Konsep budidaya ala kultur jaringan
memang berbeda dengan pola bercocok tanam pada umumnya. Dia dan teman-temannya
menggunakan media tanam berupa agar-agar dan botol kaca sebagai kemasan.
Material yang ada di agar-agar ternyata bisa menggantikan tanah atau sekam.
Mungil Culture menggunakantanaman
hias dan tanaman buah yang pertumbuhannya lambat. Beberapa contoh tanaman yang
pernah dibudidayakan, misalnya anggrek, kaktus, dan buah naga.
Tanaman tersebut diperbanyak dengan
teknik kultur jaringan, kemudian ditanam dalam botol kaca dengan media
agar-agar. Supaya terlihat menarik, Faththien menambahkan pewarna sehingga
botol tanaman tersebut terlihat lebih menarik.
Kultur jaringan atau
budidaya in vitro sendiri merupakan suatu metode untuk mengisolasi bagian dari
tanaman seperti protoplasma, sel, jaringan atau organ yang serba steril,
ditumbuhkan pada media buatan yang steril, dalam botol kultur yang steril dan
dalam kondisi yang aseptik, sehingga bagian-bagian tersebut dapat memperbanyak
diri dan beregenerasi menjadi tanaman yang lengkap.
Selain enak dilihat, produk suvenir
Mungil Culture juga mudah dirawat. "Suvenir tanaman ini dapat bertahan 4-6
bulan tanpa memerlukan penyiraman atau pun pemupukan," ujar mahasiswa fakultas
pertanian UGM yang saat itu sedang menjalankan tugas akhirnya.
Fathtien dan teman-temannya awalnya
mempromosikan produk Mungil Culture ke teman-teman semata. Seiring berjalannya
waktu, suvenir tanaman nan unik ini ternyata mendapat sambutan positif dari
masyarakat luas.
Setiap bulan, tim mahasiswa ini
mampu memproduksi hingga 200 botol suvenir tanaman. Produk tersebut dibanderol
Rp8.000--Rp250.000 per botol. "Margin keuntungan yang kami ambil sekitar
30%."
Soal peluang, Fathtien sangat
optimis produk suvenir tanaman bisa berkembang dan diterima masyarakat. Menurut
dia, konsep membudidayakan tanaman di dalam botol ini pas bagi konsumen yang
senang bercocok tanam, tetapi tak ingin repot merawatnya.
Ke depannya, Mungil Culture ingin terus
mengembangkan pasar. "Kami sudah menjajaki kerja sama dengan salah
pengelola daerah wisata di Yogyakarta. Mereka tertarik menjadikan produk ini
sebagai suvenir bagi turis yang berkunjung," katanya.Oleh: Cut Annisa N
13369
A.1.2
