Kamis, 18 September 2014

Mungil Culture: Suvenir Tanaman Ala Kultur Jaringan Inovasi Mahasiswa UGM




Sumber:

Feni Freycinetia Fitriani   -   Kamis, 05 Juni 2014, 13:48 WIB


Mungil Culture menggunakan media agar-agar sebagai pengganti tanah


Bisnis.com, JAKARTA - Bisnis di bidang pertanian tergolong dinamis. Asal kreatif dan mau bereskperimen, pelaku usaha bisa menghasilkan produk inovatif yang bisa menarik perhatian konsumen. Salah satunya adalah suvenir tanaman berbasis kultur jaringan.Hal inilah yang dilakukan oleh Mungil Culture. Komunitas laboratorium budidaya jaringan Gajah Mada yang telah berdiri sejak 2009 ini merintis mengembangkan produk suvenir tanaman yang berbeda, dengan lainnya.
Menurut CEO Mungil Culture Fathtien Nabihaty, “Kami, menggunakan teknik kultur jaringan untuk mengembangkan tanaman tersebut. Karena tampilannya unik, tanaman ini bisa dimanfaatkan juga sebagai pajangan atau buah tangan”.
Konsep budidaya ala kultur jaringan memang berbeda dengan pola bercocok tanam pada umumnya. Dia dan teman-temannya menggunakan media tanam berupa agar-agar dan botol kaca sebagai kemasan. Material yang ada di agar-agar ternyata bisa menggantikan tanah atau sekam.
Mungil Culture menggunakantanaman hias dan tanaman buah yang pertumbuhannya lambat. Beberapa contoh tanaman yang pernah dibudidayakan, misalnya anggrek, kaktus, dan buah naga.
Tanaman tersebut diperbanyak dengan teknik kultur jaringan, kemudian ditanam dalam botol kaca dengan media agar-agar. Supaya terlihat menarik, Faththien menambahkan pewarna sehingga botol tanaman tersebut terlihat lebih menarik.
Kultur jaringan atau budidaya in vitro sendiri merupakan suatu metode untuk mengisolasi bagian dari tanaman seperti protoplasma, sel, jaringan atau organ yang serba steril, ditumbuhkan pada media buatan yang steril, dalam botol kultur yang steril dan dalam kondisi yang aseptik, sehingga bagian-bagian tersebut dapat memperbanyak diri dan beregenerasi menjadi tanaman yang lengkap.
Selain enak dilihat, produk suvenir Mungil Culture juga mudah dirawat. "Suvenir tanaman ini dapat bertahan 4-6 bulan tanpa memerlukan penyiraman atau pun pemupukan," ujar mahasiswa fakultas pertanian UGM yang saat itu sedang menjalankan tugas akhirnya.
Fathtien dan teman-temannya awalnya mempromosikan produk Mungil Culture ke teman-teman semata. Seiring berjalannya waktu, suvenir tanaman nan unik ini ternyata mendapat sambutan positif dari masyarakat luas.
Setiap bulan, tim mahasiswa ini mampu memproduksi hingga 200 botol suvenir tanaman. Produk tersebut dibanderol Rp8.000--Rp250.000 per botol. "Margin keuntungan yang kami ambil sekitar 30%."
Soal peluang, Fathtien sangat optimis produk suvenir tanaman bisa berkembang dan diterima masyarakat. Menurut dia, konsep membudidayakan tanaman di dalam botol ini pas bagi konsumen yang senang bercocok tanam, tetapi tak ingin repot merawatnya.
Ke depannya, Mungil Culture ingin terus mengembangkan pasar. "Kami sudah menjajaki kerja sama dengan salah pengelola daerah wisata di Yogyakarta. Mereka tertarik menjadikan produk ini sebagai suvenir bagi turis yang berkunjung," katanya.

Oleh: Cut Annisa N
         13369
         A.1.2

2 komentar:

  1. Nama : Bagus Dwi Prasaja
    NIM : 13500
    Golongan : A1. 2
    Kelompok : 8

    A. Nilai Penyuluhan
    1. Sumber Teknologi/Ide : Pada artikel ini terdapat kandungan ide dari narasumber berupacara berbudidaya tanaman dengan mudah tanpa merepotkan sang pemilik.
    2. Sasaran : Sasaran yang terkandung dalam artikel ini juga jelas, yaitu para pecinta tanaman yang tidak ingin direpotkan dengan perawatan dan para pemberi souvenir unik.
    3. Manfaat : Manfaat yang didapat adalah kita dapat mengetahui cara budidaya tanaman yang baru dan memiliki keindahan secara estetika.
    4. Pendidikan : Ada dua pendidika yang didapat. Pertama, kita diajarkan bagaimana berbudidaya tanaman dengan mudah. Kedua, kita diajarkan agar dapat melihat peluang bisnis yang ada di depan mata.

    B. Nilai Berita
    1. Timelines : Tulisan ini masih baru dan segar.
    2. Development : Artikel ini mengungkap keberhasilan dari bisnis yang dilakukan narasumber.
    3. Human Interest : Artikel tersebut dapat membuat masyarakat menjadi ingin lebih mengetahui hal tersebut dan tertarik untuk melakukannya.

    BalasHapus
  2. Proses nya susah..ey kulture jaringan

    BalasHapus