Dewasa ini, ketersediaan tengah menjadi
permasalah yang serius. Air merupakan faktor penting dalam sektor pertanian.
Namun, tidak semua daerah di dunia ini memiliki air yang cukup untuk memenuhi
kebutuhan pertanian, ditambah lagi iklim yang sulit diprediksi semakin membuat
para petani mengalami kesulitan untuk menentukan komoditas apa yang akan mereka
tanam, dan kapan waktunya.
Salah satu contoh daerah yang mengalami
kekeringan air adalah di daerah gurun Chile, air merupakan komoditi yang
sangat langka. Selain itu, di
Indonesia tepatnya di Dusun Ngoho, Desa Kemitir, Kecamatan Sumowono,
Kabupaten Semarang. Daerah ini
merupakan daerah dataran tinggi dengan ketinggian 1.600 meter di atas
permukaan laut (mdpl). Pada
umumnya dataran tinggi identik dengan wilayah yang kaya air, namun tidak
demikian di wilayah ini. Di wilayah
ini kerap sekali mengalami masalah kekeringan setiap musim kemarau.
Dengan adanya permasalahan ini, Engadget
seorang peneliti menegaskan
telah berhasil 'mengekstrak' air dari kabut yang biasa melewati gurun Atacama.
Gurun yang terletak di Chile ini adalah salah satu tempat terkering di dunia, Sama halnya, di daerah Sumowono juga
menggunakan teknik yang sama yaitu teknologi pemanen kabut atau fog harvesting yang akan
diterapkan secara masif di wilayah ini mengingat potensi kabutnya yang sangat
tinggi.
Tim
dari Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) Universitas Gadjah Mada (UGM)
Yogyakarta, Minggu (20/4/2014) memasang alat pemanen kabut ini menggaantikan
alat yang sama yang telah dipasang tahun lalu.
Instalasi pemanen kabut yang baru tersebut memiliki bentang paranet (jala plastik) delapan meter, mengantikan alat lama yang hanya mempunyai bentang 1x1 meter.
"Luas penangkap kabut yang digunakan sebagai uji sebelumnya hanya 1x1 meter mampu menangkap kabut dan menghasilkan air hingga 3 liter per hari. Namun dengan pemasangan paranet yang lebih panjang dan lebih besar diharapkan tangkapan uap air akan bertambah. Dari hitung-hitungan kami bisa lebih dari 14 liter untuk keperluan pertanian," kata Ketua Tim PKM Adopsi Teknologi Pemanen Kabut UGM, Vianita Meiranti Yogamitria.
Pemanen kabut merupakan teknologi inovatif yang mampu menangkap dan mengumpulkan air dalam kabut, sehingga bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, utamanya di bidang pertanian. Sementara dalam pemasangan alat pemanen kabut yang baru ini akan dikombinasikannya dengan alat fertigasi tetes.
"Teknik fertigasi tetes adalah salah satu teknik irigasi tetes yang lebih efisien dan lebih mudah dijangkau masyarakat, murah dan mudah dibuat karena modelnya yang sederhana, namun cukup ampuh dalam mengonversi kabut menjadi siap pakai.
Instalasi pemanen kabut yang baru tersebut memiliki bentang paranet (jala plastik) delapan meter, mengantikan alat lama yang hanya mempunyai bentang 1x1 meter.
"Luas penangkap kabut yang digunakan sebagai uji sebelumnya hanya 1x1 meter mampu menangkap kabut dan menghasilkan air hingga 3 liter per hari. Namun dengan pemasangan paranet yang lebih panjang dan lebih besar diharapkan tangkapan uap air akan bertambah. Dari hitung-hitungan kami bisa lebih dari 14 liter untuk keperluan pertanian," kata Ketua Tim PKM Adopsi Teknologi Pemanen Kabut UGM, Vianita Meiranti Yogamitria.
Pemanen kabut merupakan teknologi inovatif yang mampu menangkap dan mengumpulkan air dalam kabut, sehingga bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, utamanya di bidang pertanian. Sementara dalam pemasangan alat pemanen kabut yang baru ini akan dikombinasikannya dengan alat fertigasi tetes.
"Teknik fertigasi tetes adalah salah satu teknik irigasi tetes yang lebih efisien dan lebih mudah dijangkau masyarakat, murah dan mudah dibuat karena modelnya yang sederhana, namun cukup ampuh dalam mengonversi kabut menjadi siap pakai.
Teknik ini sesuai untuk didaerah Ngoho
mengingat komoditas yang dibudidayakan petani di Ngoho ini adalah
tanaman padi dan sayuran, yang pada
umumnya tidak bisa ditanam
ketika kemarau datang.
Sesuai dengan wilayah Indonesia beragam
dan kebutuhan pangan yang terus meningkat, sangat menarik bukan untuk
mengembangkan teknologi pemanenan embun ini?
AYU NURWINDA SARI
13514
A1.2
Nama : Utin Ismitriliana
BalasHapusNIM :13395
Golongan :A1.2
Kelompok:8
A. Nilai penyuluhan
-Sumber teknologi, ada yaitu pembuatan alat pemanen kabut yang dapat memantu mengatasi kekeringan.
-Sasaran, ada yaitu daerah-daerah dataran tinggi yang mengalami kekeringan.
-Manfaat, ada yaitu dalam artikel ini alat pemanen kabut dapat mempermudah masyarakat yang kesulitan dalam mendapatkan air.
-Pendidikan, ada yaitu alat pemanen kabut ini dapat memberikan pelajaran kepada masyarakat luas bahwa untuk mengatasi suatu masalah seperti kekeringan dapat menggunakan teknologi baru yang sederhana.
B. Nilai berita
-Timelines, artikel ini mengandung berita yang masih baru dan segar, sehingga dapat menginspirasi masyarakat daerah lain.
-importance, artikel ini mengandung informasi teknologi yang penting, karena air merupakan salah satu faktor yang penting dalam pertanian.
-consequence, berita ini mengandung berita yang dapat membantu masyarakat sehingga memudahkan masyarakat.
-weather, informasi dalam artikel ini mengandung nilai cuaca, karena didalamnya memberikan informasi mengenai kekeringan.